Di Desa Adat Pinggirpapas, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bagian dari kehidupan yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah ritual adat “Molod Agung” atau Maulid Agung, sebuah tradisi masyarakat yang memiliki kekhasan tersendiri dalam memperingati momentum Maulid Nabi Muhammad SAW.
Molod Agung biasanya dilaksanakan sehari atau dua hari lebih awal dibandingkan pelaksanaan Maulid pada umumnya. Perbedaan penanggalan ini bukanlah sesuatu yang baru, melainkan telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Adat Pinggirpapas.
Menariknya, perbedaan hari tersebut tidak hanya berlaku pada momentum Maulid. Dalam tradisi masyarakat setempat, hal serupa juga ditemukan pada awal Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Perbedaan waktu tersebut menjadi salah satu kekhasan penanggalan dan tradisi keagamaan masyarakat adat Pinggirpapas yang hingga kini tetap dipertahankan.
Dalam pelaksanaan Molod Agung, hidangan yang disiapkan juga memiliki nilai tradisi yang kuat. Sajian tersebut memiliki kemiripan dengan hidangan dalam upacara adat Nyadar. Nasi ditempatkan dalam sebuah piring besar yang disebut “Panjheng”. Di atas nasi kemudian diletakkan daging ayam atau ikan bandeng, telur, serta daun yang telah dipotong membentuk lingkaran. Bukan sekadar hidangan, susunan tersebut menjadi bagian dari simbol dan kelengkapan ritual adat yang diwariskan oleh para leluhur.
Upacara adat Nyadar sendiri dilaksanakan tiga kali dalam setahun, dengan tempat pelaksanaan yang terbagi di dua wilayah: dua kali di Desa Kebundadap dan satu kali di Desa Pinggirpapas. Rangkaian tradisi tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara masyarakat, adat, ruang, dan nilai-nilai keagamaan telah terjalin begitu kuat dalam kehidupan masyarakat setempat.
Molod Agung pada akhirnya bukan hanya tentang memperingati Maulid. Ia adalah tentang ingatan, identitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa sebuah masyarakat memiliki cara sendiri dalam menjaga hubungan antara masa lalu, kehidupan hari ini, dan generasi yang akan datang.
Sebab, ketika sebuah tradisi masih dilaksanakan, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya sebuah upacara, tetapi juga cerita dan identitas sebuah masyarakat.




0 comments:
Post a Comment